BANGUNTAPAN — Kegiatan Pramuka rutin Ambalan Sunan Kalijaga dan Nyi Ageng Serang, Pangkalan MAN 4 Bantul, diawali dengan prosesi Pencucian Pusaka Adat. Prosesi tersebut menjadi salah satu rangkaian penting dalam kegiatan adat Ambalan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai sejarah, budaya, dan tradisi yang menjadi bagian dari identitas Ambalan Sunan Kalijaga dan Nyi Ageng Serang.
Upacara Pencucian Pusaka Adat diikuti oleh seluruh siswa dengan khidmat. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi peserta didik untuk mengenal sekaligus memaknai tradisi yang terus dijaga dalam kehidupan kepramukaan di pangkalan MAN 4 Bantul.
Menggunakan Air dari Tiga Sumber Mata Air Bersejarah
Prosesi Pencucian Pusaka Adat dilakukan menggunakan air yang berasal dari tiga sumber mata air yang memiliki nilai historis, yaitu mata air Makam Raja-Raja Kotagede, mata air Masjid Sulthoni, dan mata air Goa Siluman.
Ketiga sumber mata air tersebut digunakan dalam prosesi pencucian sebagai bagian dari rangkaian adat Ambalan. Penggunaan air dari ketiga sumber tersebut menjadi bagian dari tradisi yang menyertai kegiatan adat Ambalan Sunan Kalijaga dan Nyi Ageng Serang.
Prosesi berlangsung dengan penuh khidmat dan menjadi sarana bagi seluruh peserta untuk memahami bahwa kegiatan kepramukaan juga memiliki nilai-nilai budaya dan tradisi yang dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter.
Serah Terima Pusaka Adat Simbol Regenerasi
Setelah prosesi pencucian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Serah Terima Pusaka Adat dari Pemangku Adat masa bakti 2025/2026 kepada Pemangku Adat masa bakti berikutnya.
Serah terima tersebut menjadi simbol keberlanjutan proses kepramukaan sekaligus bentuk regenerasi kepemimpinan di Ambalan Sunan Kalijaga dan Nyi Ageng Serang.
Melalui prosesi tersebut, tanggung jawab dan nilai-nilai adat Ambalan diteruskan kepada generasi berikutnya untuk terus dijaga dalam pelaksanaan kegiatan kepramukaan.
Kamabigus: Ambil Nilai Positif dari Tradisi
Upacara dipimpin langsung oleh Kamabigus MAN 4 Bantul, Kak Syaefulani, S.Ag., M.Pd. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan Pencucian Pusaka Adat merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya dan adat istiadat yang menjadi pengikat tata perilaku dalam kehidupan kepramukaan.
“Kegiatan hari ini haruslah kita ambil sisi positifnya, agar kelak menjadi pengingat sekaligus dapat menanamkan jiwa-jiwa berpramuka dalam diri kita,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh peserta bahwa tradisi dalam Ambalan bukan sekadar rangkaian seremonial, tetapi dapat menjadi media untuk menanamkan nilai dan semangat kepramukaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dilanjutkan Kegiatan Hasta Karya
Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan Pramuka rutin seperti biasa. Pada kesempatan tersebut, peserta mendapatkan materi pembuatan hasta karya.
Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan melalui proses pembuatan karya secara langsung.
Rangkaian kegiatan Pencucian Pusaka Adat dan kegiatan rutin Pramuka tersebut menjadi bagian dari upaya Ambalan Sunan Kalijaga dan Nyi Ageng Serang dalam menjaga tradisi sekaligus mengembangkan keterampilan dan karakter peserta didik.
RANGKAIAN KEGIATAN ADAT AMBALAN
- Pangkalan: MAN 4 Bantul
- Ambalan: Sunan Kalijaga dan Nyi Ageng Serang
- Kegiatan: Pencucian Pusaka Adat
- Peserta: Seluruh siswa
- Sumber mata air: Makam Raja-Raja Kotagede, Masjid Sulthoni, dan Goa Siluman
- Rangkaian lanjutan: Serah Terima Pusaka Adat dan kegiatan hasta karya
Pelaksanaan Pencucian Pusaka Adat menjadi salah satu bentuk upaya menjaga kesinambungan tradisi Ambalan Sunan Kalijaga dan Nyi Ageng Serang. Melalui kegiatan tersebut, nilai sejarah, budaya, kepemimpinan, dan semangat kepramukaan diharapkan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pawarta: Sinatrya Addritama Rakhmatdi


