Setiap Pramuka adalah Pewarta: Syiar Islam di Era Digital untuk Membangun Generasi Berkarakter

Oleh: Selamet Untung Suropati, S.Pd.I

FILATELIPRAMUKA.COM – Perubahan zaman telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Jika dahulu informasi disampaikan melalui mimbar, surat kabar, atau pertemuan tatap muka, kini setiap orang memiliki "ruang redaksi" di genggaman tangannya. Melalui media sosial, siapa pun dapat menjadi penyampai informasi, pembentuk opini, bahkan influencer bagi lingkungan sekitarnya.

Transformasi digital menghadirkan dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, teknologi membuka ruang dakwah, edukasi, dan kolaborasi yang sangat luas. Namun di sisi lain, ruang digital dipenuhi hoaks, fitnah, ujaran kebencian, perundungan siber, provokasi, hingga konten yang merusak moral generasi muda. Persoalan tersebut bukan lagi sekadar masalah teknologi, melainkan telah menjadi persoalan karakter.

Pramuka sebagai Pewarta Kebaikan

Di sinilah tema "Setiap Pramuka adalah Pewarta" menemukan relevansinya. Seorang Pramuka bukan hanya belajar tali-temali, berkemah, atau kepemimpinan. Ia dipersiapkan menjadi penyebar nilai-nilai kebaikan, penjaga persatuan, dan agen perubahan di tengah masyarakat. Dalam perspektif Islam, setiap Pramuka merupakan pewarta syiar yang menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin melalui akhlak, karya nyata, dan keteladanan.

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar."
(QS. Ali 'Imran: 104)


Ayat tersebut menegaskan bahwa menyampaikan kebaikan merupakan tanggung jawab kolektif umat Islam. Dakwah bukan hanya milik ulama atau mubalig, melainkan menjadi kewajiban setiap muslim sesuai kapasitasnya. Bagi anggota Pramuka, dakwah dapat diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat, kepedulian terhadap lingkungan, kepemimpinan yang berintegritas, serta komunikasi yang santun.

"Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat."
(HR. Bukhari)


Hadis tersebut mengandung pesan bahwa setiap orang memiliki kesempatan menjadi penyampai kebaikan. Tidak harus melalui ceramah panjang, tetapi melalui perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam. Ketika seorang Pramuka membantu korban bencana, membersihkan lingkungan, menghormati orang tua, menghindari perundungan, dan berlaku jujur, sesungguhnya ia sedang menjalankan dakwah bil hal, yaitu dakwah melalui tindakan nyata.

Dasa Darma Pramuka Selaras dengan Nilai Islam

Nilai-nilai tersebut sangat selaras dengan Dasa Darma Pramuka. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, patriot yang sopan dan ksatria, rela menolong dan tabah, disiplin, bertanggung jawab, dapat dipercaya, serta suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan merupakan karakter yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini.

Sayangnya, masyarakat sedang menghadapi krisis keteladanan. Ruang digital lebih sering dipenuhi sensasi daripada edukasi. Banyak orang berlomba menjadi viral, tetapi melupakan nilai moral. Ukuran keberhasilan sering kali diukur dari jumlah pengikut (followers), bukan dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ahmad)


Hadis tersebut menjadi fondasi filosofi pengabdian Pramuka. Ukuran keberhasilan seorang Pramuka bukanlah seberapa terkenal dirinya, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat atas kehadirannya.

Literasi Digital dan Tabayyun

Era digital juga menuntut lahirnya generasi yang memiliki literasi informasi. Allah SWT telah memberikan pedoman yang sangat relevan melalui firman-Nya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun)..."
(QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini menjadi prinsip utama dalam menghadapi banjir informasi. Seorang Pramuka tidak boleh menjadi penyebar kabar yang belum jelas kebenarannya. Ia harus melakukan tabayyun, memverifikasi informasi, berpikir kritis, serta mempertimbangkan dampak sosial sebelum menekan tombol bagikan.

Nilai agama tersebut juga sejalan dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang menegaskan pentingnya menjaga ruang digital yang bersih, sehat, produktif, beretika, dan berkeadilan. Kebebasan berekspresi harus diiringi tanggung jawab moral, penghormatan terhadap hak orang lain, serta kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.

Dakwah melalui Aksi Nyata

Di tengah meningkatnya kasus perundungan, penyalahgunaan narkoba, perjudian daring, kekerasan remaja, serta rendahnya kepedulian sosial, Gerakan Pramuka memiliki ruang pengabdian yang sangat luas. Syiar Islam tidak cukup diwujudkan melalui slogan, tetapi harus hadir dalam aksi nyata.

Program bank sampah, penghijauan, donor darah, tanggap bencana, edukasi anti narkoba, literasi digital, kampanye anti perundungan, hingga pendampingan anak merupakan bentuk dakwah yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pramuka juga harus menjadi teladan dalam membangun komunikasi yang beradab. Di media sosial, anggota Pramuka hendaknya membiasakan diri menyampaikan informasi yang benar, menghargai perbedaan pendapat, menghindari provokasi, serta memproduksi konten yang inspiratif.

Setiap unggahan adalah cerminan karakter. Setiap komentar menunjukkan kualitas akhlak. Setiap informasi yang dibagikan akan menjadi jejak digital yang kelak dipertanggungjawabkan, baik di hadapan hukum maupun di hadapan Allah SWT.

Menyongsong Generasi Emas 2045

Indonesia sedang mempersiapkan Generasi Emas 2045. Namun bonus demografi tidak akan menjadi kekuatan apabila tidak diiringi bonus karakter. Bangsa ini membutuhkan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, kuat secara spiritual, serta bijak memanfaatkan teknologi.

Pendidikan kepramukaan memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi tersebut karena mengintegrasikan pendidikan karakter, kepemimpinan, pengabdian, dan semangat kebangsaan.

Oleh sebab itu, tema "Setiap Pramuka adalah Pewarta" hendaknya tidak dipahami hanya sebagai slogan kegiatan. Tema ini merupakan panggilan moral agar setiap anggota Pramuka menjadi penyampai harapan di tengah pesimisme, penyebar persatuan di tengah polarisasi, penyampai ilmu di tengah banjir informasi, serta pembawa kasih sayang di tengah menguatnya individualisme.

Pada akhirnya, syiar Islam yang paling kuat bukanlah yang paling lantang terdengar, melainkan yang paling nyata dirasakan manfaatnya. Ketika setiap Pramuka menjadi teladan dalam kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, dan komunikasi yang santun, maka ia telah menjadi pewarta yang sesungguhnya. Sebab, dakwah terbaik bukan hanya disampaikan melalui lisan, tetapi dipancarkan melalui akhlak dan diwujudkan dalam pengabdian kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan.


Penulis: Selamet Untung Suropati, S.Pd.I

Artikel opini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Post a Comment

أحدث أقدم
close
tunasmandiricorp