Oleh: M. Mahfullah Pratama Daulay, S.Stp., M.Ap
Wakil Ketua Bidang Kepemudaan, Kewanitaan, dan Disabilitas
Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Utara
Setiap 25 November, bangsa ini memperingati Hari Guru Nasional. Namun peringatan tersebut, jika tidak dibarengi dengan refleksi kritis, berpotensi menjadi seremoni tahunan yang tidak menyentuh akar persoalan pendidikan. Hari Guru seharusnya menjadi momen untuk menilai kembali apa yang telah kita berikan kepada para guru — dan apa yang masih sangat kurang.
Guru adalah aktor sentral pendidikan, tetapi sering kali justru menjadi pihak yang paling terpinggirkan. Mereka mengajar di kelas yang tidak selalu layak, menghadapi administrasi yang menumpuk, menjalankan tugas tambahan di luar jam kerja, dan tetap dituntut memberikan pelayanan pendidikan terbaik. Kondisi ini menjadi ironi bagi negeri yang menjadikan pendidikan sebagai pilar masa depan.
Beban Guru yang Tidak Lagi Rasional
Hari ini, guru dituntut menjadi segalanya: pengajar, konselor, fasilitator teknologi, komunikator bagi orang tua, hingga penyelesai masalah sosial. Sementara itu, fasilitas penunjang sering kali tidak sejalan dengan tuntutan zaman. Digitalisasi pendidikan menjanjikan kemajuan, tetapi tanpa sarana dan pelatihan yang memadai, digitalisasi justru menambah beban baru.
Kita jarang bertanya: Apakah beban guru hari ini sudah manusiawi?
Jika jujur, jawabannya: belum.
Setiap kebijakan baru kerap turun dengan cepat ke sekolah tanpa persiapan yang memadai. Guru harus segera beradaptasi tanpa ruang untuk mengkritisi atau mengevaluasi. Di sinilah pendidikan kehilangan ruhnya: guru tidak diberi ruang sebagai pemikir, padahal mereka adalah inti transformasi pendidikan.
Persoalan Kesenjangan Pendidikan dan Kelompok Rentan
Sebagai seseorang yang menangani isu kepemudaan, kewanitaan, dan disabilitas, saya menyaksikan langsung kesenjangan pendidikan yang masih besar. Anak perempuan di beberapa daerah menghadapi tantangan budaya dan sosial yang membuat mereka rentan putus sekolah. Anak disabilitas tetap berjuang untuk mendapatkan pendidikan inklusif yang sejati—bukan sekadar label tanpa fasilitas, kurikulum adaptif, atau pendamping profesional.
Di tengah kesenjangan tersebut, guru berdiri di garda terdepan. Guru menjadi tumpuan utama agar setiap anak, termasuk kelompok rentan, memperoleh pendidikan layak. Namun mereka sering kali tidak dibekali pelatihan, wawasan, atau dukungan emosional untuk menghadapi keragaman itu. Akibatnya, pendidikan inklusif lebih banyak berhenti pada konsep.
Penghargaan Bagi Guru Masih Bersifat Seremonial
Di banyak tempat, penghargaan terhadap guru masih sebatas upacara dan slogan. Padahal penghormatan sejati adalah kebijakan konkret berupa:
- peningkatan kesejahteraan,
- pengurangan beban administrasi,
- pelatihan berkelanjutan yang relevan,
- fasilitas belajar yang memadai,
- kejelasan karier profesi guru.
Tanpa itu semua, Hari Guru hanya menjadi kata-kata manis yang tidak menyentuh realitas. Guru tetap berjuang sendiri di ruang kelas sementara sistem belum sepenuhnya hadir untuk mendukung mereka.
Sinergi Pendidikan Formal dan Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka selama ini menjadi mitra strategis sekolah dalam pendidikan karakter. Sinergi ini perlu diperkuat, sebab pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada jargon. Dalam banyak kesempatan, Pramuka menanamkan nilai-nilai kemandirian, kepemimpinan, keberanian, serta empati—nilai yang sangat dibutuhkan di tengah krisis moral dan sosial saat ini.
Di Kwartir Daerah Sumatera Utara, kami melihat bahwa peran guru dan Pembina Pramuka saling melengkapi. Keduanya memiliki tujuan sama: membentuk generasi yang cerdas, tangguh, dan berkarakter.
Guru sebagai Fondasi Peradaban Bangsa
Refleksi Hari Guru Nasional 2025 membawa kita pada sebuah kesimpulan: masa depan Indonesia ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan guru hari ini. Jika guru terus dibiarkan bekerja dengan fasilitas minim, tekanan administratif tinggi, dan penghargaan yang tidak memadai, maka kita sedang membangun masa depan di atas fondasi yang rapuh.
Namun jika guru ditempatkan pada posisi terhormat, dengan kebijakan yang berpihak, fasilitas yang layak, dan dukungan penuh, maka kita sedang memperkuat pilar peradaban bangsa.
Penutup: Seruan untuk Gerakan Bersama
Saya mengajak pemerintah, orang tua, masyarakat, organisasi kepemudaan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk benar-benar memuliakan guru—bukan hanya lewat ucapan, tetapi melalui tindakan nyata. Guru telah melakukan bagiannya dengan sepenuh hati. Kini giliran kita memastikan mereka mendapatkan penghormatan yang setara dengan pengabdian mereka.
Selamat Hari Guru Nasional 2025.
Semoga para guru Indonesia selalu diberi kekuatan, kesehatan, dan keberkahan dalam menerangi masa depan generasi muda.


