YOGYAKARTA – Sejarah Gerakan Pramuka Indonesia menyimpan banyak kisah inspiratif yang menunjukkan semangat gotong royong, kreativitas, dan pengabdian. Salah satunya adalah cerita tentang “PW Dadakan”, sebuah proyek pembangunan masyarakat yang dilaksanakan secara mendadak pada tahun 1973 oleh Dewan Kerja Daerah (DKD) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kisah ini dituturkan langsung oleh Prijo Mustiko, Pradana DKD DIY saat itu, yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan proyek bersejarah tersebut.
Yogyakarta Menjadi Tuan Rumah Seminar Asia Pasifik
Pada tahun 1973, Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY dipercaya menjadi tuan rumah The 1st Asia-Pacific Community Development Seminar yang diselenggarakan di Wisma WARA, Kaliurang, Yogyakarta.
Seminar internasional ini dihadiri delegasi National Scout Organization (NSO) dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik. Selama enam bulan sebelum pelaksanaan, DKD dan DKC se-DIY telah bekerja keras sebagai panitia pelaksana yang menangani protokol, transportasi, akomodasi, hingga logistik.
Perintah Mendadak dari Kak Azis Saleh
Kurang dari tiga bulan sebelum seminar berlangsung, sebuah peristiwa tak terduga terjadi. Dalam rapat koordinasi antara Kwartir Nasional dan Kwarda DIY di Kaliurang, Kak Azis Saleh secara tiba-tiba memanggil Pradana DKD DIY, Prijo Mustiko.
“DKD siap ya melaksanakan PW sebagai proyek model yang bisa dilihat dan dipraktikkan oleh para peserta seminar dari seluruh Asia Pasifik.”
Tanpa banyak berpikir, Prijo Mustiko menjawab, “Siap, Kak!” meskipun belum mengetahui sasaran, target, maupun sumber pendanaannya.
Mencari Solusi di Tengah Keterbatasan
Perintah mendadak tersebut membuat seluruh anggota DKD DIY yang berjumlah sepuluh orang bekerja ekstra keras. Sebagian sempat ragu, tetapi semangat menjaga nama baik Pramuka DIY membuat mereka tetap berjuang.
Kak Bambang Sukiswo, yang akrab disapa Kak Tewok, segera menyusun proposal proyek pembangunan masyarakat. Selanjutnya, anggota DKD berkeliling ke berbagai instansi pemerintah untuk mencari dukungan.
Setelah hampir sebulan tanpa hasil, secercah harapan muncul ketika Kak Djoko Untung menemukan peluang kerja sama dengan Kantor Pembangunan Masyarakat Desa (PMD), yang memiliki proyek padat karya pembangunan jembatan desa di Pakembinangun, Pakem, Sleman.
Membangun Jembatan Bersama Pramuka Dunia
Lokasi proyek yang sangat dekat dengan Kaliurang menjadikan rencana ini ideal. DKD DIY kemudian berkoordinasi dengan Dewan Kerja Cabang se-DIY dan menunjuk Kak Ngadimin, Ketua DKC Sleman, sebagai Koordinator Lapangan.
Proyek yang kemudian dikenal sebagai PW Dadakan berlangsung pada 21–31 Mei 1973, dengan fokus pembangunan jembatan sepanjang kurang lebih 30 meter yang menghubungkan Dusun Sempu, Desa Pakembinangun, dengan Dusun Klarangan, Desa Candibinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman.
Delegasi seminar, Pramuka Penegak dari seluruh DIY, serta masyarakat setempat bergotong royong mengangkut pasir, batu, semen, dan menyusun fondasi jembatan.
Implementasi Nyata “Renewing of Scouting”
Proyek ini menjadi bukti nyata gagasan visioner Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Bapak Pramuka Indonesia, melalui konsep Renewing of Scouting yang menekankan keterlibatan aktif kepanduan dalam pembangunan masyarakat.
Melalui proyek tersebut, peserta seminar dapat melihat secara langsung bagaimana Gerakan Pramuka tidak hanya mendidik generasi muda, tetapi juga berkontribusi konkret dalam pembangunan desa.
Pesan Bijak Kak Azis Saleh
Pada penutupan seminar di Gedung Agung Yogyakarta, Kak Azis Saleh menyampaikan pesan yang membekas di hati seluruh anggota DKD:
“Percayalah, kalau suatu tujuan diusahakan dengan sungguh-sungguh, pasti akan berhasil.”
Kalimat sederhana itu menjadi pelajaran berharga tentang tekad, kerja keras, dan kepercayaan diri.
Jembatan Bersejarah yang Layak Menjadi Monumen
Lebih dari lima dekade berlalu, jembatan hasil PW Dadakan 1973 masih berdiri kokoh. Pada lokasi tersebut masih terdapat prasasti bertuliskan:
“KARYA BHAKTI PRAMUKA & PESERTA THE 1st ASIA-PACIFIC COMMUNITY DEVELOPMENT SEMINAR.”
Menurut Prijo Mustiko, jembatan ini layak dijadikan monumen sejarah sebagai simbol nyata kontribusi Pramuka dalam pembangunan masyarakat serta warisan pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Namun, ada kekhawatiran bahwa jembatan tersebut akan dibongkar untuk diperlebar. Jika hal itu terjadi, salah satu bukti sejarah penting Gerakan Pramuka Indonesia bisa hilang.
Warisan Nilai yang Tetap Hidup
Kisah PW Dadakan 1973 menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Dengan semangat gotong royong dan keyakinan yang kuat, Pramuka DIY berhasil melaksanakan proyek internasional yang hingga kini dikenang sebagai salah satu tonggak penting sejarah kepramukaan Indonesia.
Semangat pengabdian tersebut tetap relevan hingga saat ini, menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya, melayani masyarakat, dan menjaga warisan sejarah bangsa.
Penulis: Prijo Mustiko
Disusun Ulang: Redaksi Filateli Pramuka
Tanggal: 14 Mei 2026
Baca juga: Sejarah dan Kisah Inspiratif Gerakan Pramuka Indonesia
📚 Koleksi Buku Sejarah dan Perlengkapan Pramuka
Dapatkan buku, perlengkapan kegiatan, dan atribut Pramuka melalui tautan berikut:


