Memungut Serpihan Hari Tunas: Pramuka Kita, Birokrasi yang Kaku?

Memungut Serpihan Hari Tunas: Pramuka Kita, Birokrasi yang Kaku?

Oleh: Ari W Adipratomo

Yogyakarta, FilateliPramuka.com – Setiap tanggal 9 Maret diperingati sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka, momentum penting yang menandai awal penyatuan berbagai organisasi kepanduan di Indonesia pada tahun 1961. Hari ini seharusnya menjadi momen refleksi sekaligus perayaan semangat persatuan kepanduan yang melahirkan Gerakan Pramuka sebagai organisasi pendidikan karakter generasi muda.

Namun jika kita melihat kondisi saat ini dengan jujur, ada rasa hambar yang mulai terasa. Gerakan Pramuka tampak seperti organisasi besar yang perlahan kehilangan ruhnya. Ia terlihat semakin terjebak dalam sekat-sekat protokoler yang kaku serta gaya kepemimpinan yang lebih menyerupai birokrasi formal dibandingkan semangat kekeluargaan seorang kakak pembina.

Pimpinan yang Berjarak, Fasilitas yang Utama

Fenomena yang sering menjadi sorotan adalah perubahan wajah kepemimpinan di tubuh Gerakan Pramuka. Dahulu, pemimpin Pramuka dikenal sebagai sosok yang dekat dengan anggota di lapangan, mudah dirangkul, serta hadir langsung dalam kegiatan pembinaan.

Namun saat ini, tidak sedikit yang merasakan adanya jarak antara pimpinan dengan anggota di daerah. Pendekatan yang terlalu formal, sulit diakses, serta kesan eksklusivitas membuat hubungan antara pusat dan daerah terasa semakin renggang.

Ironisnya, kunjungan pimpinan ke daerah terkadang lebih identik dengan standar fasilitas yang harus dipenuhi oleh tuan rumah. Tuntutan pelayanan layaknya tamu VIP justru menjadi beban logistik bagi kwartir daerah atau cabang.

Pertanyaannya kemudian sederhana: di mana semangat kesederhanaan Pramuka jika setiap kunjungan harus disambut dengan fasilitas mewah?

Koordinasi Strategis yang Melemah

Dalam aspek kelembagaan, keaktifan pimpinan juga menjadi perhatian. Koordinasi strategis dengan unsur Majelis Pembimbing Nasional (Mabinas), khususnya dengan pimpinan TNI dan Polri sebagai pengampu berbagai Satuan Karya (Saka), dinilai belum optimal.

Padahal, Saka merupakan salah satu wadah penting bagi pembinaan keterampilan teknis Pramuka Penegak dan Pandega. Tanpa sinergi yang kuat dengan lembaga-lembaga tersebut, Gerakan Pramuka berisiko kehilangan arah dalam pengembangan kompetensi generasi muda.

Tantangan di Tingkat Internasional

Di tingkat global, tantangan yang dihadapi juga tidak ringan. Isu klasik seperti tunggakan iuran keanggotaan kepada World Organization of the Scout Movement (WOSM) menjadi catatan serius yang mempengaruhi posisi tawar Gerakan Pramuka Indonesia di forum internasional.

Upaya diplomasi dan koordinasi lintas kementerian, seperti dengan Kementerian Keuangan maupun Kementerian Luar Negeri, dinilai belum maksimal. Akibatnya, peluang partisipasi aktif dalam program-program global kepanduan menjadi terbatas.

Program-program internasional yang seharusnya dapat menjadi ruang pembelajaran bagi seluruh anggota Pramuka sering kali hanya dinikmati oleh lingkaran terbatas, sehingga semangat inklusivitas dalam organisasi terasa berkurang.

Benih Perpecahan dan Hilangnya Aktivis Militan

Kondisi lain yang tidak kalah memprihatinkan adalah munculnya kembali benih-benih faksi dalam organisasi. Ketika proses penyusunan kepengurusan tidak lagi sepenuhnya berbasis rekam jejak, militansi, serta dedikasi di lapangan, melainkan faktor kedekatan atau kepentingan tertentu, maka organisasi berpotensi kehilangan arah.

Para aktivis Pramuka yang selama ini bekerja keras di lapangan justru berisiko tersisih oleh mereka yang hanya muncul pada kegiatan seremonial. Situasi ini tentu menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan kaderisasi kepemimpinan dalam Gerakan Pramuka.

Gerakan Pramuka membutuhkan pemimpin yang bersedia berkeringat di bawah terik matahari bersama adik-adiknya, bukan pemimpin yang hanya nyaman di ruang ber-AC sambil menanyakan fasilitas apa yang akan mereka dapatkan.


Refleksi Hari Tunas

Peringatan Hari Tunas seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum refleksi bersama untuk mengembalikan semangat dasar Gerakan Pramuka: kesederhanaan, kedekatan, pengabdian, dan kepemimpinan yang melayani.

Jika nilai-nilai tersebut mampu dihidupkan kembali, maka Gerakan Pramuka akan tetap menjadi ruang pembinaan karakter yang relevan bagi generasi muda Indonesia di tengah perubahan zaman.

Salam Pramuka.


Tentang Penulis
Ari Wijanarko Adipratomo merupakan purna anggota Dewan Kerja Nasional (DKN). Saat ini ia aktif sebagai Low Carbon Policy and Programme Advisor di UKFCDO, serta terlibat dalam advokasi kebijakan iklim melalui The Climate Reality Project Indonesia.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
close
tunasmandiricorp