FilateliPramuka.com — Ada sebuah kejadian yang patut menjadi bahan renungan bersama. Seorang Pramuka telah mengenakan Tanda Kecakapan Umum (TKU). Namun ketika ditanya bagaimana proses ia menempuhnya, ia tidak mampu menjelaskan. Setelah ditelusuri, alasannya sederhana — ia memakainya karena melihat teman-teman seusianya sudah lebih dulu mengenakannya.
Sekilas, hal ini mungkin tampak sebagai persoalan kecil. Namun bila ditarik lebih dalam, peristiwa tersebut menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: simbol pembinaan digunakan tanpa pemahaman terhadap proses pendidikan yang seharusnya menyertainya. Ketika atribut menjadi sekadar bentuk penyesuaian sosial, makna pendidikan di baliknya berisiko hilang.
Makna TKU dalam Sistem Pembinaan Pramuka
Dalam sistem pembinaan Pramuka Penegak dan Pandega, setiap tahapan perjalanan telah dirancang dengan alur yang jelas. TKU bukan sekadar tanda yang dijahit pada seragam, melainkan simbol pencapaian yang lahir dari proses belajar, pengujian, pendampingan, serta pembentukan karakter.
Setiap jenjang dirancang untuk menumbuhkan kecakapan, tanggung jawab, dan kedewasaan berorganisasi. Namun realitas di lapangan menunjukkan adanya anggota yang tidak memahami perjalanan baktinya sendiri — bahkan pada aspek yang paling mendasar.
Masalah Individu atau Masalah Sistem?
Kejadian semacam ini bukan sekadar kekurangan individu. Ketika anggota tidak mengetahui bagaimana mereka berkembang dalam sistem pembinaan, maka yang layak dipertanyakan adalah kualitas proses yang mengantar mereka.
Pedoman pembinaan telah tersedia dengan rambu yang jelas. Sistem telah disusun dengan kerangka pendidikan karakter yang sistematis. Jika arah sudah ditetapkan, mengapa praktik di lapangan bisa melenceng?
Pertanyaan yang muncul menjadi semakin tegas: siapa yang seharusnya memastikan bahwa setiap pencapaian benar-benar melalui proses pendidikan yang utuh?
Refleksi bagi Pembina, Dewan Kerja, dan Kwartir
Apakah pembina kurang menanamkan pemahaman bahwa tanda kecakapan bukan sekadar atribut, melainkan hasil perjalanan belajar? Apakah Dewan Kerja belum maksimal mengaitkan kegiatan dengan jalur pembinaan yang sistematis? Ataukah pengawasan kwartir belum cukup kuat untuk menjamin standar pembinaan benar-benar dijalankan?
Ketika pemakaian simbol lebih didorong oleh ikut-ikutan dibanding proses, sulit untuk menyebutnya sebagai kejadian insidental. Ada indikasi bahwa sebagian pembinaan berjalan sebagai rutinitas administratif, bukan sebagai pendidikan yang disadari maknanya.
Kepramukaan Bukan Sekadar Simbol
Kepramukaan tidak pernah dirancang sebagai kegiatan simbolik. Ia adalah proses pembentukan diri. Ia adalah pendidikan karakter berbasis pengalaman. Ia adalah perjalanan bertahap yang menuntut kesungguhan.
Jika Penegak dan Pandega mulai kehilangan pemahaman terhadap perjalanan tersebut, maka pertanyaan tentang tanggung jawab bukanlah tudingan — melainkan alarm yang menuntut perhatian serius.
Selama pertanyaan ini belum dijawab dengan perbaikan nyata, risiko tereduksinya makna pembinaan akan terus membayangi. Dan ketika makna itu hilang, yang tersisa hanyalah atribut tanpa jiwa.
Opini: LS


